Langsung ke konten utama

Lalat pembawa Rahmat

 

 

يروى ان الامام الغزالي .رئي بعد موته,فقيل له :ما فعل الله بك؟, فقال: غفر لي, فقيل: بم ذلك؟, قال : بذباب برح على القلم وأنا أكتب, فتركته حتى روي, بهذا غفر الله لي. (المنهج السوي: 658)


Malam itu, seorang ulama tertidur di tengah keheningan gurun. Angin gurun berhembus pelan, membawa butiran pasir yang berkilau di bawah cahaya bulan. Langit terbentang luas, kosong,tak berujung; bintang-bintang bertebaran seperti huruf-huruf yang ditulis di lembaran langit.

Dalam mimpi, gurun itu berubah menjadi ruang batin yang lapang. Pasir memantulkan cahaya lembut, dan di tengah hamparan itu berdiri Imam al-Ghazali. Wajahnya teduh, matanya memantulkan ketenangan yang membuat gurun terasa seperti majelis ilmu.


Ulama itu mendekat, hatinya bergetar.

 “Wahai Imam, apa yang Allah lakukan terhadapmu?”

Al-Ghazali menatapnya dengan mata yang jernih, seakan memantulkan cahaya dari langit yang tak terjangkau. “Allah mengampuniku,” jawabnya singkat, namun penuh makna.

Ulama itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya,

 “Dengan apa engkau diampuni?”

Senyum tipis menghiasi wajah sang hujjatul Islam.
 “Dengan seekor lalat,” katanya. “Ia hinggap di penaku saat aku menulis. Aku biarkan ia hingga puas minum. Dari kelembutan kecil itu, Allah mengampuniku.”


Mimpi itu berakhir, namun gema kata-kata al-Ghazali tetap hidup. Seakan dunia berbisik: bahwa rahmat tidak selalu lahir dari perkara besar, melainkan dari kelembutan yang sederhana. Seekor lalat yang dibiarkan meneguk tinta menjadi saksi kasih sayang, dan kasih sayang itu menjadi jembatan menuju ampunan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Kamu terlalu penting untuk tunduk

Manusia memanglah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk bertahan. Namun jangan sekali-kali untuk menitipkan dirimu pada mulut mereka. Jangan kau amini setiap kata, jangan kau iyakan setiap ajakan, jangan selalu siaga pada setiap panggilan tolong. Sebab bila kau terus menyuguhkan dirimu tanpa batas, otak mereka akan menaruhmu di rak yang rendah: sekadar npc yang diprogram untuk menuruti, bukan pribadi yang layak dihargai. Kebaikanmu pun akan dianggap bukan lagi anugerah, melainkan kewajiban yang harus kau lakukan. Maka, belajarlah berkata “tidak” sebagaimana kau belajar berkata “ya”. Sesekali menolak adalah tanda bahwa kau masih memiliki kehendak. Jadilah dirimu sendiri, bukan bayangan yang mereka bentuk. Sebab ketika kau hadir sebagai npc, wajah yang kau lihat hanyalah topeng manis yang dipakai ketika “aku butuh kamu”. Dan ketika kebutuhan itu usai, jangan heran bila wajah yang selalu tersenyum kini berubah membawa pisau yang menusuk, bahkan dari depan. Jangan memaksakan diri be...