Langsung ke konten utama

Postingan

Baik bagimu belum tentu banginya

 Tak semua yang kau anggap baik, akan serupa di mata mereka. Sebab kebaikan bukanlah satu warna, melainkan kepingan yang berbeda dari sudut lainnya. Apa yang kau suguhkan dengan tulus, bisa saja dianggap biasa, bahkan mengundang curigai. Dan apa yang kau sebut teman, belum tentu menyebutmu dengan nama yang sama. Terkadang persahabatan hanyalah bayangan yang menari di tebing lembah, ilusi yang menghangatkan sesaat, lalu lenyap ketika cahaya mulai merangkak. Hidup mengajarkan bahwa tidak semua senyum adalah pelukan, tidak semua pelukan adalah kejujuran. Ada yang mendekat karena kebutuhan, ada yang menjauh karena takut terseret dalam luka yang kau bawa. Maka jangan terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, sebab nilai dirimu tidak lahir dari tepuk tangan mereka, melainkan dari keteguhan hati dan jati diri. Semua ilusi itu memang terlihat indah, seperti fatamorgana di padang tandus, memberi harapan bagi yang haus. Namun jika kau terus mengejarnya, kau akan tersungkur tanpa pernah...
Postingan terbaru

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

17-32

 "17-32", suara itu sering tenggelam di pasar yang riuh oleh iklan cinta. Ayat yang melarang, kini terdengar seperti gema di ruang hampa, sementara manusia sibuk merayakan pelukan di kafe, menyiarkan ciuman di layar kaca, dan menjual gairah sebagai komoditas. Ironis bukan!. Larangan itu berdiri kokoh, tapi di jalanan kota billboard menari dengan tubuh setengah telanjang, iklan parfum menjanjikan keintiman, dan drama televisi menjadikan perselingkuhan sebagai hiburan. Ayat itu seakan menjadi bisikan kecil di tengah konser. "Jangan dekati"......... katanya. Tapi masyarakat justru membangun jembatan menuju neraka. Aplikasi kencan yang menjodohkan tanpa ikatan, pesta malam yang merayakan pelampiasan, bahkan bahasa sehari-hari yang mulai meremehkan. Seolah zina tak lagi dosa, melainkan gaya hidup. Kau ulang "17-32" seperti alarm yang tak pernah berhenti, tapi banyak telinga memilih tuli. Mereka menganggap larangan itu kuno, padahal ia adalah pagar yang melindun...

Manusia Kadaluarsa.

Manusia adalah makhluk yang tak pernah benar-benar berdiri sendiri. Dalam setiap langkah, ia membutuhkan bayangan orang lain untuk meneguhkan pijakannya. Dari sinilah lahir berbagai simpul hubungan: ikatan darah yang disebut keluarga, jalinan rasa yang disebut persahabatan, hingga pertemuan singkat yang kadang hanya meninggalkan jejak samar. Namun hidup bukanlah garis lurus, melainkan poros yang terus berputar. Seperti roda nasib yang tak pernah berhenti, manusia akan senantiasa berjumpa dengan hal-hal baru: masalah yang tak terduga, wajah-wajah asing yang kelak menjadi akrab, dan cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis. Sementara yang lama, perlahan akan sampai pada masa kadaluwarsanya, seperti buku yang selesai dibaca lalu dikembalikan ke rak. Bayangkan hidup sebagai sebuah serial panjang. Menonton episode demi episode dengan tokoh yang itu-itu saja tentu sanggatlah membosankan. Justru pergantian karakter, konflik baru, dan alur yang tak terduga membuat cerita semakin hidup. Begitu...

RINDU

R.I.N.D.U. Sudah berulang kali kueja kata itu, sebuah mantra yang seakan lahir dari rahasia langit. Kata sederhana, namun ajaib, yang mampu mengguncang jiwa manusia, bahkan mengubah wajah dunia. Rindu bukan sekadar huruf yang berbaris, ia adalah api yang menyala dalam dada, mampu membuat manusia kehilangan akalnya, mampu melahirkan karya yang menembus batas zaman. Dari rindulah Tesla menyalakan cahaya yang tak pernah padam, dari rindulah suara menembus jarak tanpa batas, dari rindu pula wajah dapat diproyeksikan meski tak bersua. Rindu adalah kabar dari hati, sebuah desir yang mengabarkan kerinduan mendalam kepada yang lama tak ditemui. Namun, tahukah engkau, ada satu sosok yang dirindukan melebihi segala yang pernah ada? Ia dirindukan oleh yang mendahului, oleh yang semasa, bahkan oleh mereka yang tak pernah mengenal rupanya, namun tetap menaruh cinta yang tak ter gambarkan. Dialah MUHAMMAD BIN ABDULLAH , salah satu hamba Allah, orang yang membuat kata ini melampaui batas waktu dan ge...

Antara Feodalisme dan Mengabdi

Fenomena sosial dalam sejarah manusia sering kali ditandai oleh hubungan hierarkis antara penguasa dan rakyat. Dua istilah yang relevan untuk menggambarkan dinamika ini adalah feodalisme dan mengabdi . Keduanya memiliki akar sejarah yang berbeda dan pengertian yang berbeda, namun sering kali kita salah memahami ma`na dan hakikat sebenarnya. Terlebih belakangan ini pembahasan tentang Pesantren feodal yang lagi gencar-gencarnya diperdebatkan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis regulasi antara feodalisme sebagai sistem kekuasaan dan mengabdi sebagai sikap sosial, serta implikasinya dalam konteks modern. A.   Definisi dan konsep Feodalisme : Feodalisme merupakan Sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan; sistem yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, bukan prestasi. Sistem ini berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan, ditandai oleh hubungan lord-vassal , kepemilikan tanah, dan hierarki bangsawan. Sementara dalam kont...

Ahad 17 agustus 2025

  Matahari tersenyum lebar melihat kesyahduan para santri yang berbaris rapi menyayikan lagu indonesia raya, namun batinnya berbisik “inikah merdeka?, apakah merdeka hanya tentang upacara dan bendera” bisikan itu menggema ke seluruh penjuru nusantra membuat waktu berhenti bergerak. KH Yazid Karimullah melangkah menjuju mimbar, hendak memberi amanat kepada seluruh hadirin. seakan mendengar bisikan matahari. Beliau berkata “80 tahun negri ini merdeka, angka yang cukup dewasa” kami hanya terdiam membuka telinga selebar lebarnya berusaha mencena ucapan beliau, “apakah kalian merasakita sudah berada di kemerdeakaan haqiqi, merdeka yang benar-benar merdeka, kelaparan dimana-mana, politik tak menentu, penindasan rakyat asing kepad pribumi, merdeka bukan hanya tentang bendera yang berkibar tinggi atau upacara yang berjalan rapi, melaikan tentang sejahtera yang menyekuruh, tentang terealisasinya teks pancasila yang dibacakan tadi. Jadi saya menitipkan kepada kalian semua disini, terutama ...