Langsung ke konten utama

Postingan

Jabatan imam shalat dalam kitab Ahkamus Shultoniah Al-Mawardi

Pembagian Imam dalam Shalat Imam dalam shalat terbagi menjadi tiga kategori: Imam shalat lima waktu. Imam shalat Jumat. Imam shalat nadb. Imam Shalat Lima Waktu Untuk shalat lima waktu, pengangkatan imam shalatnya bergantung pada status masjidnya. Masjid Sulthon adalah masjid jami’ (yang didirikan shalat jumat) yang punya banyak jammah, atau masjid simbol (kek istiklal indo) atau tempat ibadah yang dipelihara langsung oleh penguasa. Imamnya harus ditunjuk oleh Sultan. Tidak boleh ada orang lain yang maju menjadi imam tanpa mandat Sultan. Jika sudah ada satu orang yang ditunjuk maka ialah yang lebih utama, meskipun ada lebih alim atau lebih utama, hal ini untuk menjaga kewenangan Sultan agar rakyat tidak melangkahi haknya. v   Pengangkatan imam salat adalah perkara yang utama bukan kewajiban, bukan perkara wajib kayak mengangkat hakim. Berdasarkan dua alasan yaitu: ·     ...
Postingan terbaru

Selat Hormuz: Antara Kedaulatan dan butanya Dunia

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin mengeras, seperti bara yang dipaksa menyala oleh tiupan angin konflik. Iran, yang merasa terdesak oleh tekanan Amerika Serikat dan serangan Israel, mengancam menutup Selat Hormuz (jalur sempit yang menyalurkan hampir 20% minyak dunia). Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap merugikan karena mengguncang ekonomi global. Namun, jika kita menimbang dari sudut pandang kedaulatan dan prinsip pertahanan, penutupan itu bisa dimaknai sebagai tindakan yang sah, bahkan perlu. Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdaganganbiasa, ia adalah simbol ketergantungan dunia pada energi yang keluar dari kawasan Teluk. Setiap hari, jutaan barel minyak dan LNG mengalir melewati jalur ini, menghidupi mesin industri dari Eropa hingga Cina, dari Antartika hingga Jakarta. Dunia bergantung, tetapi ketergantungan itu seringkali dibangun di atas ketidakadilan: negara-negara besar seperti Amerika menekan, mengintervensi, bahkan menyerang, sementara Iran dituntut untuk...

lepaskan topeng mu

 Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.  Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...

Kopi terakhir

 sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di sudut kafe kecil dekat stasiun, Raka dan Laila duduk berhadapan. Aroma kopi merambat pelan, seakan ingin menahan waktu agar tak tergesa meninggalkan mereka. “Raka, kita sampai di sini,” suara Laila lirih, nyaris pecah. “Aku harus berangkat. Kampus itu menungguku, dan aku tak bisa menolaknya.” Raka memejamkan mata, jemarinya mengepal. “Aku tahu. Tapi… apakah kita juga harus selesai?” Laila tersenyum pahit, senyum yang lebih mirip luka. “Aku tak pernah menginginkan ini. Namun kadang hidup memilih jalannya sendiri. Aku hanya ingin kau bahagia, meski bukan bersamaku.” Raka mendongak, rahangnya mengeras. “Bahagia? Semudah itu? Kau menanam benih, menyiraminya setiap hari, lalu tiba-tiba kau membakarnya!” Hening menelan kata-kata. Di luar, kereta melintas, suaranya menyerupai lonceng perpisahan. Laila meraih tangan Raka, menggenggamnya hangat, hangat yang tahu diri, hanya sesaat. “Raka, kita pernah punya cinta yang indah. Biarlah kenangan itu...

Baik bagimu belum tentu banginya

 Tak semua yang kau anggap baik, akan serupa di mata mereka. Sebab kebaikan bukanlah satu warna, melainkan kepingan yang berbeda dari sudut lainnya. Apa yang kau suguhkan dengan tulus, bisa saja dianggap biasa, bahkan mengundang curigai. Dan apa yang kau sebut teman, belum tentu menyebutmu dengan nama yang sama. Terkadang persahabatan hanyalah bayangan yang menari di tebing lembah, ilusi yang menghangatkan sesaat, lalu lenyap ketika cahaya mulai merangkak. Hidup mengajarkan bahwa tidak semua senyum adalah pelukan, tidak semua pelukan adalah kejujuran. Ada yang mendekat karena kebutuhan, ada yang menjauh karena takut terseret dalam luka yang kau bawa. Maka jangan terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, sebab nilai dirimu tidak lahir dari tepuk tangan mereka, melainkan dari keteguhan hati dan jati diri. Semua ilusi itu memang terlihat indah, seperti fatamorgana di padang tandus, memberi harapan bagi yang haus. Namun jika kau terus mengejarnya, kau akan tersungkur tanpa pernah...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

17-32

 "17-32", suara itu sering tenggelam di pasar yang riuh oleh iklan cinta. Ayat yang melarang, kini terdengar seperti gema di ruang hampa, sementara manusia sibuk merayakan pelukan di kafe, menyiarkan ciuman di layar kaca, dan menjual gairah sebagai komoditas. Ironis bukan!. Larangan itu berdiri kokoh, tapi di jalanan kota billboard menari dengan tubuh setengah telanjang, iklan parfum menjanjikan keintiman, dan drama televisi menjadikan perselingkuhan sebagai hiburan. Ayat itu seakan menjadi bisikan kecil di tengah konser. "Jangan dekati"......... katanya. Tapi masyarakat justru membangun jembatan menuju neraka. Aplikasi kencan yang menjodohkan tanpa ikatan, pesta malam yang merayakan pelampiasan, bahkan bahasa sehari-hari yang mulai meremehkan. Seolah zina tak lagi dosa, melainkan gaya hidup. Kau ulang "17-32" seperti alarm yang tak pernah berhenti, tapi banyak telinga memilih tuli. Mereka menganggap larangan itu kuno, padahal ia adalah pagar yang melindun...