Tak semua yang kau anggap baik, akan serupa di mata mereka. Sebab kebaikan bukanlah satu warna, melainkan kepingan yang berbeda dari sudut lainnya. Apa yang kau suguhkan dengan tulus, bisa saja dianggap biasa, bahkan mengundang curigai. Dan apa yang kau sebut teman, belum tentu menyebutmu dengan nama yang sama. Terkadang persahabatan hanyalah bayangan yang menari di tebing lembah, ilusi yang menghangatkan sesaat, lalu lenyap ketika cahaya mulai merangkak. Hidup mengajarkan bahwa tidak semua senyum adalah pelukan, tidak semua pelukan adalah kejujuran. Ada yang mendekat karena kebutuhan, ada yang menjauh karena takut terseret dalam luka yang kau bawa. Maka jangan terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, sebab nilai dirimu tidak lahir dari tepuk tangan mereka, melainkan dari keteguhan hati dan jati diri. Semua ilusi itu memang terlihat indah, seperti fatamorgana di padang tandus, memberi harapan bagi yang haus. Namun jika kau terus mengejarnya, kau akan tersungkur tanpa pernah...
Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!. Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.