Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli. Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...
sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di sudut kafe kecil dekat stasiun, Raka dan Laila duduk berhadapan. Aroma kopi merambat pelan, seakan ingin menahan waktu agar tak tergesa meninggalkan mereka. “Raka, kita sampai di sini,” suara Laila lirih, nyaris pecah. “Aku harus berangkat. Kampus itu menungguku, dan aku tak bisa menolaknya.” Raka memejamkan mata, jemarinya mengepal. “Aku tahu. Tapi… apakah kita juga harus selesai?” Laila tersenyum pahit, senyum yang lebih mirip luka. “Aku tak pernah menginginkan ini. Namun kadang hidup memilih jalannya sendiri. Aku hanya ingin kau bahagia, meski bukan bersamaku.” Raka mendongak, rahangnya mengeras. “Bahagia? Semudah itu? Kau menanam benih, menyiraminya setiap hari, lalu tiba-tiba kau membakarnya!” Hening menelan kata-kata. Di luar, kereta melintas, suaranya menyerupai lonceng perpisahan. Laila meraih tangan Raka, menggenggamnya hangat, hangat yang tahu diri, hanya sesaat. “Raka, kita pernah punya cinta yang indah. Biarlah kenangan itu...