Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin mengeras, seperti bara yang dipaksa menyala oleh tiupan angin konflik. Iran, yang merasa terdesak oleh tekanan Amerika Serikat dan serangan Israel, mengancam menutup Selat Hormuz (jalur sempit yang menyalurkan hampir 20% minyak dunia). Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap merugikan karena mengguncang ekonomi global. Namun, jika kita menimbang dari sudut pandang kedaulatan dan prinsip pertahanan, penutupan itu bisa dimaknai sebagai tindakan yang sah, bahkan perlu. Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdaganganbiasa, ia adalah simbol ketergantungan dunia pada energi yang keluar dari kawasan Teluk. Setiap hari, jutaan barel minyak dan LNG mengalir melewati jalur ini, menghidupi mesin industri dari Eropa hingga Cina, dari Antartika hingga Jakarta. Dunia bergantung, tetapi ketergantungan itu seringkali dibangun di atas ketidakadilan: negara-negara besar seperti Amerika menekan, mengintervensi, bahkan menyerang, sementara Iran dituntut untuk...
Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli. Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...