Langsung ke konten utama

Postingan

KH Yazid Karimullah

  KH Yazid Karimullah merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain yang dikenal sebagai sosok sederhana, disiplin, dan penuh keteladanan. Beliau tidak hanya dikenal dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian besar terhadap kebersihan lingkungan pesantren . Di tengah kondisi masyarakat yang sering menganggap kebersihan sebagai hal sepele, KH Yazid justru menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari pendidikan akhlak, pembentukan karakter, serta bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar . Lingkungan pesantren yang bersih, rapi, dan tertata menjadi salah satu ciri khas yang membuat banyak orang kagum ketika berkunjung ke sana. Selain itu, beliau juga dikenal memiliki kemampuan arsitektur yang luar biasa. Meskipun tidak menempuh pendidikan formal sebagai arsitek, beliau mampu merancang bangunan-bangunan pesantren dengan tata letak yang nyaman, indah dipandang, dan memiliki nilai estetika tersendiri. Dalam perjuangannya mem...
Postingan terbaru

Menyembelih “Aku” di Pagi Iduladha

  Pagi ini, untuk kesekian kalinya, kumandang takbir menggema ke seluruh penjuru bumi, melangit, memantul pada dedaunan, lalu jatuh perlahan ke dada-dada yang sedang belajar ikhlas. Kutatap pepohonan yang bergoyang pelan seolah turut larut dalam zikir panjang. Angin berembus syahdu, membawa aroma tanah, embun, dan kenangan tentang pengorbanan. Para santri berjalan dengan pakaian terbaik mereka: jubah putih yang bersih, sorban yang tersampir di bahu sebagai tanda tunduk seorang hamba di hadapan Tuhannya. Wajah-wajah mereka teduh, langkah mereka tenang. Aku pun membaur, melangkah bersama menuju masjid untuk menunaikan salat Id, sembari membiarkan takbir demi takbir membersihkan riuh di dalam kepala. Namun, sebelum telapak kakiku menyentuh lantai masjid, angin berbisik lirih di telingaku, bisik yang lebih tajam dari dingin pagi, lebih dingin dari nafas subuh: “Sudahkah kau mengorbankan egomu hari ini? Ataukah selama ini kau malah memberinya singgasana paling tinggi di dalam hati...

Menyembelih ego

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرةً وأصيلًا . لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده . لا إله إلا الله، ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون . Malam ini Iduladha datang dengan gema takbir yang terasa berbeda. Ada sesuatu dalam gema itu yang tidak hanya menggema di langit-langit masjid, tetapi juga menggema di bagian paling sunyi dada manusia. Orang menyebutnya malam ini, dengan malam kemenangan, malam pengorbanan, malam penuh keberkahan. Namun sebenarnya malam ini juga seperti cermin yang memaksa kita melihat diri sendiri jauh lebih dalam. Kita sering mengira kurban hanya tentang kambing, sapi, atau darah yang mengalir. Padahal sejak dalu, Iduladha selalu berbicara tentang sesuatu yang lebih sulit dari sekadar menyembelih hewan: menyembelih ego. Tentang bagaimana manusia belajar merelakan keinginan, menundukkan kesombongan, d...

Matahari kecewa

  Pagi itu, angin berbisik di telingaku, seolah membawa rahasia yang tak kumengerti. “Kau tahu mengapa sepagi ini langit sudah menangis?” tanyanya lirih. Aku hanya menggeleng, kebingungan. “Entah,” jawabku singkat. Angin semakin mendesir, mendesakku untuk mencari jawaban. “Coba tanyakan pada pipit yang beterbangan.” Aku melangkah, mendekati kawanan pipit. Namun burung kecil itu justru mengarahkan aku pada pohon alpukat di depan asrama. “Apakah kau tahu mengapa langit menangis pagi ini?” tanyaku penuh harap. Pohon itu diam, hanya mengangkat rantingnya ke arah langit. Aku mendongak. Kabut turun perlahan, mendung menebal, dan di balik kelabu itu tampak secercah cahaya redup. Matahari. Aku terperanjat. “Matahari… mengapa kau begitu murung?” tanyaku cemas. Dengan suara malas, ia menjawab, “Aku kecewa padamu.” Hatiku bergetar. “Mengapa? Apakah aku menyakitimu?” Matahari menarik napas panjang, lalu menatapku tajam. “Kau tahu, tugasku adalah menyinari semua sudut, men...

Kamu terlalu penting untuk tunduk

Manusia memanglah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk bertahan. Namun jangan sekali-kali untuk menitipkan dirimu pada mulut mereka. Jangan kau amini setiap kata, jangan kau iyakan setiap ajakan, jangan selalu siaga pada setiap panggilan tolong. Sebab bila kau terus menyuguhkan dirimu tanpa batas, otak mereka akan menaruhmu di rak yang rendah: sekadar npc yang diprogram untuk menuruti, bukan pribadi yang layak dihargai. Kebaikanmu pun akan dianggap bukan lagi anugerah, melainkan kewajiban yang harus kau lakukan. Maka, belajarlah berkata “tidak” sebagaimana kau belajar berkata “ya”. Sesekali menolak adalah tanda bahwa kau masih memiliki kehendak. Jadilah dirimu sendiri, bukan bayangan yang mereka bentuk. Sebab ketika kau hadir sebagai npc, wajah yang kau lihat hanyalah topeng manis yang dipakai ketika “aku butuh kamu”. Dan ketika kebutuhan itu usai, jangan heran bila wajah yang selalu tersenyum kini berubah membawa pisau yang menusuk, bahkan dari depan. Jangan memaksakan diri be...

Selat Hormuz: Antara Kedaulatan dan butanya Dunia

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin mengeras, seperti bara yang dipaksa menyala oleh tiupan angin konflik. Iran, yang merasa terdesak oleh tekanan Amerika Serikat dan serangan Israel, mengancam menutup Selat Hormuz (jalur sempit yang menyalurkan hampir 20% minyak dunia). Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap merugikan karena mengguncang ekonomi global. Namun, jika kita menimbang dari sudut pandang kedaulatan dan prinsip pertahanan, penutupan itu bisa dimaknai sebagai tindakan yang sah, bahkan perlu. Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdaganganbiasa, ia adalah simbol ketergantungan dunia pada energi yang keluar dari kawasan Teluk. Setiap hari, jutaan barel minyak dan LNG mengalir melewati jalur ini, menghidupi mesin industri dari Eropa hingga Cina, dari Antartika hingga Jakarta. Dunia bergantung, tetapi ketergantungan itu seringkali dibangun di atas ketidakadilan: negara-negara besar seperti Amerika menekan, mengintervensi, bahkan menyerang, sementara Iran dituntut untuk...

lepaskan topeng mu

 Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.  Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...