Manusia adalah makhluk yang tak pernah benar-benar berdiri sendiri. Dalam setiap langkah, ia membutuhkan bayangan orang lain untuk meneguhkan pijakannya. Dari sinilah lahir berbagai simpul hubungan: ikatan darah yang disebut keluarga, jalinan rasa yang disebut persahabatan, hingga pertemuan singkat yang kadang hanya meninggalkan jejak samar. Namun hidup bukanlah garis lurus, melainkan poros yang terus berputar. Seperti roda nasib yang tak pernah berhenti, manusia akan senantiasa berjumpa dengan hal-hal baru: masalah yang tak terduga, wajah-wajah asing yang kelak menjadi akrab, dan cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis. Sementara yang lama, perlahan akan sampai pada masa kadaluwarsanya, seperti buku yang selesai dibaca lalu dikembalikan ke rak. Bayangkan hidup sebagai sebuah serial panjang. Menonton episode demi episode dengan tokoh yang itu-itu saja tentu sanggatlah membosankan. Justru pergantian karakter, konflik baru, dan alur yang tak terduga membuat cerita semakin hidup. Begitu...
R.I.N.D.U. Sudah berulang kali kueja kata itu, sebuah mantra yang seakan lahir dari rahasia langit. Kata sederhana, namun ajaib, yang mampu mengguncang jiwa manusia, bahkan mengubah wajah dunia. Rindu bukan sekadar huruf yang berbaris, ia adalah api yang menyala dalam dada, mampu membuat manusia kehilangan akalnya, mampu melahirkan karya yang menembus batas zaman. Dari rindulah Tesla menyalakan cahaya yang tak pernah padam, dari rindulah suara menembus jarak tanpa batas, dari rindu pula wajah dapat diproyeksikan meski tak bersua. Rindu adalah kabar dari hati, sebuah desir yang mengabarkan kerinduan mendalam kepada yang lama tak ditemui. Namun, tahukah engkau, ada satu sosok yang dirindukan melebihi segala yang pernah ada? Ia dirindukan oleh yang mendahului, oleh yang semasa, bahkan oleh mereka yang tak pernah mengenal rupanya, namun tetap menaruh cinta yang tak ter gambarkan. Dialah MUHAMMAD BIN ABDULLAH , salah satu hamba Allah, orang yang membuat kata ini melampaui batas waktu dan ge...