Pagi itu, angin berbisik di telingaku, seolah membawa rahasia yang tak kumengerti. “Kau tahu mengapa sepagi ini langit sudah menangis?” tanyanya lirih. Aku hanya menggeleng, kebingungan. “Entah,” jawabku singkat. Angin semakin mendesir, mendesakku untuk mencari jawaban. “Coba tanyakan pada pipit yang beterbangan.” Aku melangkah, mendekati kawanan pipit. Namun burung kecil itu justru mengarahkan aku pada pohon alpukat di depan asrama. “Apakah kau tahu mengapa langit menangis pagi ini?” tanyaku penuh harap. Pohon itu diam, hanya mengangkat rantingnya ke arah langit. Aku mendongak. Kabut turun perlahan, mendung menebal, dan di balik kelabu itu tampak secercah cahaya redup. Matahari. Aku terperanjat. “Matahari… mengapa kau begitu murung?” tanyaku cemas. Dengan suara malas, ia menjawab, “Aku kecewa padamu.” Hatiku bergetar. “Mengapa? Apakah aku menyakitimu?” Matahari menarik napas panjang, lalu menatapku tajam. “Kau tahu, tugasku adalah menyinari semua sudut, men...
Manusia memanglah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk bertahan. Namun jangan sekali-kali untuk menitipkan dirimu pada mulut mereka. Jangan kau amini setiap kata, jangan kau iyakan setiap ajakan, jangan selalu siaga pada setiap panggilan tolong. Sebab bila kau terus menyuguhkan dirimu tanpa batas, otak mereka akan menaruhmu di rak yang rendah: sekadar npc yang diprogram untuk menuruti, bukan pribadi yang layak dihargai. Kebaikanmu pun akan dianggap bukan lagi anugerah, melainkan kewajiban yang harus kau lakukan. Maka, belajarlah berkata “tidak” sebagaimana kau belajar berkata “ya”. Sesekali menolak adalah tanda bahwa kau masih memiliki kehendak. Jadilah dirimu sendiri, bukan bayangan yang mereka bentuk. Sebab ketika kau hadir sebagai npc, wajah yang kau lihat hanyalah topeng manis yang dipakai ketika “aku butuh kamu”. Dan ketika kebutuhan itu usai, jangan heran bila wajah yang selalu tersenyum kini berubah membawa pisau yang menusuk, bahkan dari depan. Jangan memaksakan diri be...