Langsung ke konten utama

Postingan

lepaskan topeng mu

 Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.  Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...
Postingan terbaru

Kopi terakhir

 sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di sudut kafe kecil dekat stasiun, Raka dan Laila duduk berhadapan. Aroma kopi merambat pelan, seakan ingin menahan waktu agar tak tergesa meninggalkan mereka. “Raka, kita sampai di sini,” suara Laila lirih, nyaris pecah. “Aku harus berangkat. Kampus itu menungguku, dan aku tak bisa menolaknya.” Raka memejamkan mata, jemarinya mengepal. “Aku tahu. Tapi… apakah kita juga harus selesai?” Laila tersenyum pahit, senyum yang lebih mirip luka. “Aku tak pernah menginginkan ini. Namun kadang hidup memilih jalannya sendiri. Aku hanya ingin kau bahagia, meski bukan bersamaku.” Raka mendongak, rahangnya mengeras. “Bahagia? Semudah itu? Kau menanam benih, menyiraminya setiap hari, lalu tiba-tiba kau membakarnya!” Hening menelan kata-kata. Di luar, kereta melintas, suaranya menyerupai lonceng perpisahan. Laila meraih tangan Raka, menggenggamnya hangat, hangat yang tahu diri, hanya sesaat. “Raka, kita pernah punya cinta yang indah. Biarlah kenangan itu...

Baik bagimu belum tentu banginya

 Tak semua yang kau anggap baik, akan serupa di mata mereka. Sebab kebaikan bukanlah satu warna, melainkan kepingan yang berbeda dari sudut lainnya. Apa yang kau suguhkan dengan tulus, bisa saja dianggap biasa, bahkan mengundang curigai. Dan apa yang kau sebut teman, belum tentu menyebutmu dengan nama yang sama. Terkadang persahabatan hanyalah bayangan yang menari di tebing lembah, ilusi yang menghangatkan sesaat, lalu lenyap ketika cahaya mulai merangkak. Hidup mengajarkan bahwa tidak semua senyum adalah pelukan, tidak semua pelukan adalah kejujuran. Ada yang mendekat karena kebutuhan, ada yang menjauh karena takut terseret dalam luka yang kau bawa. Maka jangan terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, sebab nilai dirimu tidak lahir dari tepuk tangan mereka, melainkan dari keteguhan hati dan jati diri. Semua ilusi itu memang terlihat indah, seperti fatamorgana di padang tandus, memberi harapan bagi yang haus. Namun jika kau terus mengejarnya, kau akan tersungkur tanpa pernah...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

17-32

 "17-32", suara itu sering tenggelam di pasar yang riuh oleh iklan cinta. Ayat yang melarang, kini terdengar seperti gema di ruang hampa, sementara manusia sibuk merayakan pelukan di kafe, menyiarkan ciuman di layar kaca, dan menjual gairah sebagai komoditas. Ironis bukan!. Larangan itu berdiri kokoh, tapi di jalanan kota billboard menari dengan tubuh setengah telanjang, iklan parfum menjanjikan keintiman, dan drama televisi menjadikan perselingkuhan sebagai hiburan. Ayat itu seakan menjadi bisikan kecil di tengah konser. "Jangan dekati"......... katanya. Tapi masyarakat justru membangun jembatan menuju neraka. Aplikasi kencan yang menjodohkan tanpa ikatan, pesta malam yang merayakan pelampiasan, bahkan bahasa sehari-hari yang mulai meremehkan. Seolah zina tak lagi dosa, melainkan gaya hidup. Kau ulang "17-32" seperti alarm yang tak pernah berhenti, tapi banyak telinga memilih tuli. Mereka menganggap larangan itu kuno, padahal ia adalah pagar yang melindun...

Manusia Kadaluarsa.

Manusia adalah makhluk yang tak pernah benar-benar berdiri sendiri. Dalam setiap langkah, ia membutuhkan bayangan orang lain untuk meneguhkan pijakannya. Dari sinilah lahir berbagai simpul hubungan: ikatan darah yang disebut keluarga, jalinan rasa yang disebut persahabatan, hingga pertemuan singkat yang kadang hanya meninggalkan jejak samar. Namun hidup bukanlah garis lurus, melainkan poros yang terus berputar. Seperti roda nasib yang tak pernah berhenti, manusia akan senantiasa berjumpa dengan hal-hal baru: masalah yang tak terduga, wajah-wajah asing yang kelak menjadi akrab, dan cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis. Sementara yang lama, perlahan akan sampai pada masa kadaluwarsanya, seperti buku yang selesai dibaca lalu dikembalikan ke rak. Bayangkan hidup sebagai sebuah serial panjang. Menonton episode demi episode dengan tokoh yang itu-itu saja tentu sanggatlah membosankan. Justru pergantian karakter, konflik baru, dan alur yang tak terduga membuat cerita semakin hidup. Begitu...

RINDU

R.I.N.D.U. Sudah berulang kali kueja kata itu, sebuah mantra yang seakan lahir dari rahasia langit. Kata sederhana, namun ajaib, yang mampu mengguncang jiwa manusia, bahkan mengubah wajah dunia. Rindu bukan sekadar huruf yang berbaris, ia adalah api yang menyala dalam dada, mampu membuat manusia kehilangan akalnya, mampu melahirkan karya yang menembus batas zaman. Dari rindulah Tesla menyalakan cahaya yang tak pernah padam, dari rindulah suara menembus jarak tanpa batas, dari rindu pula wajah dapat diproyeksikan meski tak bersua. Rindu adalah kabar dari hati, sebuah desir yang mengabarkan kerinduan mendalam kepada yang lama tak ditemui. Namun, tahukah engkau, ada satu sosok yang dirindukan melebihi segala yang pernah ada? Ia dirindukan oleh yang mendahului, oleh yang semasa, bahkan oleh mereka yang tak pernah mengenal rupanya, namun tetap menaruh cinta yang tak ter gambarkan. Dialah MUHAMMAD BIN ABDULLAH , salah satu hamba Allah, orang yang membuat kata ini melampaui batas waktu dan ge...