Langsung ke konten utama

RINDU

R.I.N.D.U. Sudah berulang kali kueja kata itu, sebuah mantra yang seakan lahir dari rahasia langit. Kata sederhana, namun ajaib, yang mampu mengguncang jiwa manusia, bahkan mengubah wajah dunia. Rindu bukan sekadar huruf yang berbaris, ia adalah api yang menyala dalam dada, mampu membuat manusia kehilangan akalnya, mampu melahirkan karya yang menembus batas zaman. Dari rindulah Tesla menyalakan cahaya yang tak pernah padam, dari rindulah suara menembus jarak tanpa batas, dari rindu pula wajah dapat diproyeksikan meski tak bersua.

Rindu adalah kabar dari hati, sebuah desir yang mengabarkan kerinduan mendalam kepada yang lama tak ditemui. Namun, tahukah engkau, ada satu sosok yang dirindukan melebihi segala yang pernah ada? Ia dirindukan oleh yang mendahului, oleh yang semasa, bahkan oleh mereka yang tak pernah mengenal rupanya, namun tetap menaruh cinta yang tak ter gambarkan.

Dialah MUHAMMAD BIN ABDULLAH , salah satu hamba Allah, orang yang membuat kata ini melampaui batas waktu dan generasi. Adam, manusia pertama, berseru rindu padanya. Isa bin Maryam berdoa agar menjadi bagian dari umatnya. Paramalikat berbaris rapi hanya untuk melihat cahayanya. Betapa agung sosok ini, hingga rindu tak lagi memiliki batasan.

Sahabat-sahabatnya, jangan ditanya bagaimana derasnya rindu yang mengalir dalam dada mereka. Rindu yang membuat air mata menjadi saksi, rindu yang membuat langkah mereka tak pernah goyah. Dan kita, yang hanya mendengar kisah-kisahnya, yang tak pernah menatap wajahnya, tetap merasakan kerinduan yang begitu dalamnya.

Rindu kepada Rasulullah bukan sekadar rasa, ia adalah samudra tak bertepi, tempat hati berlayar mencari makna. Ia adalah gunung yang menjulang, tempat jiwa mendaki untuk menemukan puncak cinta. Ia adalah kopi yang pahit sekaligus manis, mengajarkan bahwa cinta sejati selalu berlapis ujian namun tetap meninggalkan kehangatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

lepaskan topeng mu

 Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.  Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...