R.I.N.D.U. Sudah berulang kali kueja kata itu, sebuah mantra yang seakan lahir dari rahasia langit. Kata sederhana, namun ajaib, yang mampu mengguncang jiwa manusia, bahkan mengubah wajah dunia. Rindu bukan sekadar huruf yang berbaris, ia adalah api yang menyala dalam dada, mampu membuat manusia kehilangan akalnya, mampu melahirkan karya yang menembus batas zaman. Dari rindulah Tesla menyalakan cahaya yang tak pernah padam, dari rindulah suara menembus jarak tanpa batas, dari rindu pula wajah dapat diproyeksikan meski tak bersua.
Rindu adalah kabar dari hati, sebuah desir yang mengabarkan
kerinduan mendalam kepada yang lama tak ditemui. Namun, tahukah engkau, ada
satu sosok yang dirindukan melebihi segala yang pernah ada? Ia dirindukan oleh
yang mendahului, oleh yang semasa, bahkan oleh mereka yang tak pernah mengenal
rupanya, namun tetap menaruh cinta yang tak ter gambarkan.
Dialah MUHAMMAD BIN ABDULLAH , salah satu hamba Allah, orang
yang membuat kata ini melampaui batas waktu dan generasi. Adam, manusia
pertama, berseru rindu padanya. Isa bin Maryam berdoa agar menjadi bagian dari
umatnya. Paramalikat berbaris rapi hanya untuk melihat cahayanya. Betapa agung
sosok ini, hingga rindu tak lagi memiliki batasan.
Sahabat-sahabatnya, jangan ditanya bagaimana derasnya rindu
yang mengalir dalam dada mereka. Rindu yang membuat air mata menjadi saksi,
rindu yang membuat langkah mereka tak pernah goyah. Dan kita, yang hanya
mendengar kisah-kisahnya, yang tak pernah menatap wajahnya, tetap merasakan
kerinduan yang begitu dalamnya.
Rindu kepada Rasulullah bukan sekadar rasa, ia adalah
samudra tak bertepi, tempat hati berlayar mencari makna. Ia adalah gunung yang
menjulang, tempat jiwa mendaki untuk menemukan puncak cinta. Ia adalah kopi
yang pahit sekaligus manis, mengajarkan bahwa cinta sejati selalu berlapis
ujian namun tetap meninggalkan kehangatan.
Komentar
Posting Komentar