Langsung ke konten utama

Manusia Kadaluarsa.

Manusia adalah makhluk yang tak pernah benar-benar berdiri sendiri. Dalam setiap langkah, ia membutuhkan bayangan orang lain untuk meneguhkan pijakannya. Dari sinilah lahir berbagai simpul hubungan: ikatan darah yang disebut keluarga, jalinan rasa yang disebut persahabatan, hingga pertemuan singkat yang kadang hanya meninggalkan jejak samar.
Namun hidup bukanlah garis lurus, melainkan poros yang terus berputar. Seperti roda nasib yang tak pernah berhenti, manusia akan senantiasa berjumpa dengan hal-hal baru: masalah yang tak terduga, wajah-wajah asing yang kelak menjadi akrab, dan cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis. Sementara yang lama, perlahan akan sampai pada masa kadaluwarsanya, seperti buku yang selesai dibaca lalu dikembalikan ke rak.
Bayangkan hidup sebagai sebuah serial panjang. Menonton episode demi episode dengan tokoh yang itu-itu saja tentu sanggatlah membosankan. Justru pergantian karakter, konflik baru, dan alur yang tak terduga membuat cerita semakin hidup. Begitu pula dengan perjalanan manusia, siklus pertemuan dan perpisahan itulah yang menjadikan hidup penuh warna, penuh kejutan, dan tak pernah kehilangan daya tariknya.
Hidup, pada akhirnya, adalah panggung drama yang terus berganti babak. Dan kita, para aktor yang saling melengkapi, menulis kisah bersama di bawah cakrawala yang entah di mana ujungnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

lepaskan topeng mu

 Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.  Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...