sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di sudut kafe kecil dekat stasiun, Raka dan Laila duduk berhadapan. Aroma kopi merambat pelan, seakan ingin menahan waktu agar tak tergesa meninggalkan mereka.
“Raka, kita sampai di sini,” suara Laila lirih, nyaris pecah. “Aku harus berangkat. Kampus itu menungguku, dan aku tak bisa menolaknya.”
Raka memejamkan mata, jemarinya mengepal. “Aku tahu. Tapi… apakah kita juga harus selesai?”
Laila tersenyum pahit, senyum yang lebih mirip luka. “Aku tak pernah menginginkan ini. Namun kadang hidup memilih jalannya sendiri. Aku hanya ingin kau bahagia, meski bukan bersamaku.”
Raka mendongak, rahangnya mengeras. “Bahagia? Semudah itu? Kau menanam benih, menyiraminya setiap hari, lalu tiba-tiba kau membakarnya!”
Hening menelan kata-kata. Di luar, kereta melintas, suaranya menyerupai lonceng perpisahan.
Laila meraih tangan Raka, menggenggamnya hangat, hangat yang tahu diri, hanya sesaat. “Raka, kita pernah punya cinta yang indah. Biarlah kenangan itu menjadi rumah, tempatmu pulang kapan pun kau rindu.”
Raka menarik napas panjang, lalu melepaskan genggaman itu. “Baiklah. Mungkin pilihanmu memang yang terbaik untuk kita.” Ia berdiri, menandaskan tegukan terakhir kopinya, lalu meletakkan dua lembar seratus ribu di meja. Tangannya menjabat tangan Laila, untuk terakhir kalinya, mungkin. “Terima kasih untuk semuanya, Laila.”
Kereta berikutnya datang. Raka melangkah pergi, meninggalkan aroma kopi dan hati yang masih berat. Ia menutup mata, membiarkan senja meredam luka yang belum
Komentar
Posting Komentar