"17-32", suara itu sering tenggelam di pasar yang riuh oleh iklan cinta. Ayat yang melarang, kini terdengar seperti gema di ruang hampa, sementara manusia sibuk merayakan pelukan di kafe, menyiarkan ciuman di layar kaca, dan menjual gairah sebagai komoditas.
Ironis bukan!.
Larangan itu berdiri kokoh, tapi di jalanan kota billboard menari dengan tubuh setengah telanjang, iklan parfum menjanjikan keintiman, dan drama televisi menjadikan perselingkuhan sebagai hiburan. Ayat itu seakan menjadi bisikan kecil di tengah konser.
"Jangan dekati"......... katanya.
Tapi masyarakat justru membangun jembatan menuju neraka. Aplikasi kencan yang menjodohkan tanpa ikatan, pesta malam yang merayakan pelampiasan, bahkan bahasa sehari-hari yang mulai meremehkan. Seolah zina tak lagi dosa, melainkan gaya hidup.
Kau ulang "17-32" seperti alarm yang tak pernah berhenti, tapi banyak telinga memilih tuli. Mereka menganggap larangan itu kuno, padahal ia adalah pagar yang melindungi, keluarga yang retak, anak-anak yang kehilangan arah, hati yang hancur oleh janji palsu.
Entahlah, mungkin kita mengira Tuhan menutup mata, sementara malaikat sibuk berdebat di surga.
Komentar
Posting Komentar