Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.
Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa.
Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu.
Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terbaik.” Nasehat itu bukan sekadar kata han, ia cermin.
Tapi kau, sering pura-pura lupa. Kau menutup telinga, menolak bercermin. Kau lebih suka menelan manis palsu, padahal jiwamu haus akan pahit yang jujur.
Apa gunanya semua kebohongan itu?
Apa gunanya semua kebodohan itu?
toh pada akhirnya meski kau diterima di keramaian dirangkul dan tertawa bersama, hatimu tetap kosong. Kesepian. Kesepian yang sunyi, seperti secangkir kopi dingin yang ditinggalkan di meja pesta, tak lagi diminum, tak lagi dipedulikan meski ada ditengah-tengah pesta.
Akankah kau belum juga sadar .
dengarlah…
Dirimu yang sejati bukanlah kutukan. Wajahmu yang asli bukanlah aib. Topeng-topeng itu hanya bayangan rapuh, mudah retak oleh waktu. Sedangkan dirimu adalah gunung yang berdiri tegak, meski diselimuti kabut. Jangan biarkan kabut menipu matamu.
Lepaskanlah topengmu.
Biarkan dunia melihat wajahmu yang asli. Biarkan dunia tahu bahwa kau bukan bayangan, bukan tiruan. Kau adalah kopi yang pahit, tapi jujur. Kau adalah gunung yang tegak, meski sunyi.
Dan ketika kau berani berkata:
“Ini aku, dengan segala luka, tawa, dan kopi yang menemaniku.”
Saat itu, dunia akan berhenti menuntutmu untuk sama. Dunia hanya menunggu kau berani menjadi dirimu sendiri.
Dan ketahulah bahwa segala sesuatu yang diperoleh dari kebohongan. Hakikatnya hanyalah fatamorgana.
Komentar
Posting Komentar