Pagi itu matahari baru saja menyembul dari balik perbukitan. Embun masih menempel di ujung-ujung daun ketika Malik berjalan menuju pasar bersama anaknya. Di samping mereka melangkah seekor keledai yang biasa membantu pekerjaan keluarga mereka.
Jalan menuju pasar cukup jauh. Malik memilih berjalan kaki sambil menuntun keledai, sementara anaknya berjalan di sampingnya. Sesekali mereka bercanda untuk mengusir lelah yang mulai terasa.
Belum lama berjalan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang.
“Lihat mereka!” seru salah seorang. “Betapa bodohnya. Mereka punya keledai, tetapi tidak ada yang menaikinya.”
Orang-orang itu tertawa kecil.
Malik menoleh kepada anaknya. Ia mulai berpikir bahwa mungkin perkataan mereka ada benarnya. Maka ia pun menaiki keledai, sementara anaknya tetap berjalan kaki.
Tak lama kemudian mereka bertemu rombongan lain.
“Lihat bapak itu,” kata seorang wanita. “Ia duduk nyaman di atas keledai, sementara anaknya harus berjalan di bawah terik matahari.”
Malik merasa tidak enak hati. Ia segera turun dan menyuruh anaknya naik ke atas keledai.
Anaknya menurut. Namun beberapa saat kemudian mereka kembali mendengar komentar.
“Anak itu tidak tahu sopan santun,” ujar seseorang. “Ayahnya berjalan kaki, tetapi dia malah menunggangi keledai.”
Wajah si kecil memerah karena malu. Ia segera turun.
Karena tidak ingin dikritik lagi, akhirnya Malik dan anaknya menaiki keledai bersama-sama.
Mereka mengira kali ini tidak akan ada yang mencela.
Ternyata mereka salah.
Saat melewati sekumpulan pedagang, terdengar suara lain.
“Kasihan keledai kecil itu! Mengapa harus menanggung beban dua orang sekaligus?”
Malik dan adiknya kembali kebingungan.
“Kalau begitu, kita turun saja,” kata Malik.
Kini Malik benar-benar bingung. Apa pun yang mereka lakukan selalu dianggap salah.
Karena terlalu memikirkan perkataan orang lain, mereka mencoba cara yang paling aneh. Mereka mengikat kaki keledai pada sebatang bambu lalu memikulnya di atas bahu.
Orang-orang yang melihatnya tertawa semakin keras.
"orang gila dari mana nih" ujar seorang pedagang sabil tertawa terbahak-bahak.
Ketika mereka melewati sebuah jembatan di atas sungai, keledai itu panik karena merasa tidak nyaman. Ia meronta-ronta sekuat tenaga hingga tali pengikatnya terlepas. Tubuhnya jatuh ke sungai yang berarus deras dan hanyut terbawa air.
Malik dan anaknya hanya bisa terpaku. Keledai yang selama ini membantu pekerjaan mereka telah hilang.
Perjalanan menuju pasar pun berakhir sebelum tujuan tercapai.
Dalam perjalanan pulang, sang anak berjalan dengan kepala tertunduk.
“Yah,” katanya pelan, “mengapa semua ini bisa terjadi?”
Malik memandang aliran sungai yang semakin jauh dari pandangan.
“Karena kita terlalu sibuk mendengarkan semua orang,” jawabnya. “Kita mengubah keputusan berkali-kali hanya demi menghindari komentar mereka. Padahal setiap orang memiliki pendapat yang berbeda.”
Anak itu terdiam, merenungkan kata-kata itu.
Hari itu mereka kehilangan seekor keledai, tetapi memperoleh pelajaran yang jauh lebih berharga: tidak semua perkataan manusia harus diikuti.
Sejak saat itu, Malik dan anaknyabelajar untuk mendengarkan nasihat yang baik dan bermanfaat, namun tidak menjadikan setiap komentar sebagai penentu langkah hidup mereka.
[Aesop, Aesop's Fables, trans. George Fyler Townsend (New York: P. F. Collier & Son, 1919), 155–156.]
dari cerita ini kita belajar bahwa: manusia tidak akan pernah mampu memuaskan semua orang. Apa yang dianggap benar oleh sebagian orang bisa dianggap salah oleh yang lain. Karena itu, jangan sampai kehilangan akal sehat, prinsip, dan tujuan hanya karena terlalu sibuk mencari persetujuan manusia. Dengarkan nasihat yang bijak, tetapi tetaplah berpijak pada kebenaran dan pertimbangan yang matang. Sebab orang yang hidup hanya untuk mengikuti pendapat orang lain sering kali berakhir kehilangan sesuatu yang paling berharga.
«مسند الروياني» (1/ 75)
وَأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، حَيْثُمَا وَجَدَهَا أَخَذَهَا»
Nabi Muhammad pernah berkata "Hikmah merupakan barang hilang orang mukmin. siapapuny yang menemukanya ambilah pelajaran darinya" [«مسند الروياني» (1/ 75)]
catatan:
cerita ini sangat mirip dengan kisah legen daris dari timur tengah "Luqman al-Hakim dan keledai" banyak orang berasumsi kisah yang populer di dunia Islam tentang "Luqman dan keledai" merupakan adaptasi atau penyerapan dari tradisi hikayat yang lebih tua dan menyebar luas di berbagai budaya. Yang berubah hanyalah tokohnya: dalam tradisi Barat tokohnya seorang penggiling gandum dan anaknya, sedangkan dalam beberapa versi Timur Tengah tokohnya diganti menjadi Luqman al-Hakim dan putranya agar pesan hikmahnya lebih mudah diterima masyarakat Muslim. Wallahuu A`lam...
Komentar
Posting Komentar