البيان في مذهب الإمام الشافعي» (11/ 247):
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإن ولده من كسبه» .
وروى جابر: «أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: يا رسول الله، إن أبي يأخذ مالي فينفقه، فقال الأب: إنما أنفقته يا رسول الله على إحدى عماته أو إحدى خالاته، فهبط جبريل، وقال: يا رسول الله، سل الأب عن شعر قاله، فسأله رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فقال الأب: إن الله - وله الحمد - يزيدنا بك بيانًا يا رسول الله كل يوم، والله: لقد قلت هذا الشعر في نفسي، فلم تسمعه أذناي، ثم أنشأ يقول:
غذوتك مولودًا وعلتك يافعًا … تعل بما أجني إليك وتنهل
إذا ليلة ضاقتك بالسقم لم أبت … لسقمك إلا ساهرًا أتململ
كأني أنا المطروق دونك بالذي … طرقت به منه فعيناي تهمل
فلما بلغت السن والغاية التي … إليها مدى ما فيك كنت أؤمل
جعلت جوابي غلظة وفظاظة … كأنك أنت المنعم المتفضل
فليتك إذ لم ترع حق أبوتي … فعلت كما الجار المجاور يفعل
قال جابر: فقبض رسول الله صلى الله عليه وسلم بتلابيب الابن، وقال: " أنت ومالك لأبيك، أنت ومالك لأبيك، أنت ومالك لأبيك " ثلاثًا» .
Di tempat yang terhampar sebuah gurun luas bagi lautan, seorang pemuda datang dengan wajah gusar. Nafasnya berat, seakan membawa beban yang tak tertanggungkan. Ia menatap Rasulullah dan berkata lirih, namun penuh keluhan:
“Wahai Rasulullah, ayahku mengambil hartaku dan membelanjakannya.”
Seketika suasana hening. Mata para sahabat menoleh, menunggu jawaban.
"pergilah!. Panggil ayahmu kemari"
Sang ayah yang duduk tak jauh dari sana pun angkat bicara, suaranya tenang, penuh kejujuran:
“Wahai Rasulullah, aku membelanjakannya untuk salah satu kerabatnya, demi menjaga silaturahmi.”
Lalu turunlah Jibril, membawa pesan dari langit: “Wahai Rasulullah, tanyakanlah kepada sang ayah tentang syair yang pernah ia ucapkan.”
Maka Rasulullah ﷺ menoleh, menanyakan syair itu. Sang ayah tersenyum getir, lalu berkata:
“Demi Allah, aku memang pernah mengucapkannya dalam hatiku, meski telingaku sendiri belum mendengarnya. Izinkan aku melantunkannya di hadapanmu.”
Dan ia pun mulai bersyair, suaranya bergetar namun penuh makna:
Aku membesarkanmu sejak engkau bayi, lalu aku merawatmu ketika engkau remaja…
Engkau menikmati hasil jerih payahku dan minum darinya.
Jika suatu malam engkau sakit dan kesulitan, aku tidak tidur…
Karena sakitmu, aku terjaga gelisah sepanjang malam.
Seakan-akan akulah yang ditimpa sakit itu, bukan engkau…
Hingga mataku berlinang karena penderitaanmu.
Ketika engkau mencapai usia dan cita-cita…
Yang selama ini aku harapkan darimu.
Jawabanmu kepadaku hanyalah kekerasan dan keburukan…
Seakan-akan engkaulah yang berbuat baik dan memberi nikmat.
Andai saja engkau tidak menjaga hak kebapakan…
Syair itu menggema, menusuk hati setiap yang mendengar. Para sahabat terdiam, merasakan luka seorang ayah yang tak dihargai oleh anaknya.
Rasulullah ﷺ bangkit, mendekati sang anak. Beliau memegang kerah bajunya, menatapnya dengan sorot mata yang penuh ketegasan sekaligus kasih sayang, lalu bersabda tiga kali:
“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”
Suasana pun pecah oleh keheningan yang dalam. Kata-kata itu bukan sekadar hukum, melainkan pengingat: bahwa di balik setiap langkah anak, ada jejak pengorbanan ayah dan ibu yang tak pernah berhenti.
Komentar
Posting Komentar