Langsung ke konten utama

Menyembelih “Aku” di Pagi Iduladha

 Pagi ini, untuk kesekian kalinya, kumandang takbir menggema ke seluruh penjuru bumi, melangit, memantul pada dedaunan, lalu jatuh perlahan ke dada-dada yang sedang belajar ikhlas. Kutatap pepohonan yang bergoyang pelan seolah turut larut dalam zikir panjang. Angin berembus syahdu, membawa aroma tanah, embun, dan kenangan tentang pengorbanan.

Para santri berjalan dengan pakaian terbaik mereka: jubah putih yang bersih, sorban yang tersampir di bahu sebagai tanda tunduk seorang hamba di hadapan Tuhannya. Wajah-wajah mereka teduh, langkah mereka tenang. Aku pun membaur, melangkah bersama menuju masjid untuk menunaikan salat Id, sembari membiarkan takbir demi takbir membersihkan riuh di dalam kepala.

Namun, sebelum telapak kakiku menyentuh lantai masjid, angin berbisik lirih di telingaku, bisik yang lebih tajam dari dingin pagi, lebih dingin dari nafas subuh:

“Sudahkah kau mengorbankan egomu hari ini? Ataukah selama ini kau malah memberinya singgasana paling tinggi di dalam hatimu?”

Aku terdiam.

Seketika takbir yang menggema terasa bukan lagi sekadar suara, melainkan panggilan untuk menyembelih sesuatu yang selama ini hidup diam-diam dalam diri: kesombongan yang selalu dipelihara, amarah yang enggan ditundukkan, dan rasa ingin selalu dimenangkan.

Barangkali, Iduladha memang bukan hanya tentang darah yang mengalir dari leher hewan kurban. Sebab ada ego yang jauh lebih liar daripada kambing, lebih sulit dijinakkan daripada sapi, dan lebih rakus daripada nafsu yang terus meminta dipenuhi.

Dan pagi ini aku sadar, bisa jadi yang paling pantas disembelih terlebih dahulu bukanlah hewan di pelataran masjid, melainkan “aku” yang terlalu lama hidup di dalam dada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

Kamu terlalu penting untuk tunduk

Manusia memanglah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk bertahan. Namun jangan sekali-kali untuk menitipkan dirimu pada mulut mereka. Jangan kau amini setiap kata, jangan kau iyakan setiap ajakan, jangan selalu siaga pada setiap panggilan tolong. Sebab bila kau terus menyuguhkan dirimu tanpa batas, otak mereka akan menaruhmu di rak yang rendah: sekadar npc yang diprogram untuk menuruti, bukan pribadi yang layak dihargai. Kebaikanmu pun akan dianggap bukan lagi anugerah, melainkan kewajiban yang harus kau lakukan. Maka, belajarlah berkata “tidak” sebagaimana kau belajar berkata “ya”. Sesekali menolak adalah tanda bahwa kau masih memiliki kehendak. Jadilah dirimu sendiri, bukan bayangan yang mereka bentuk. Sebab ketika kau hadir sebagai npc, wajah yang kau lihat hanyalah topeng manis yang dipakai ketika “aku butuh kamu”. Dan ketika kebutuhan itu usai, jangan heran bila wajah yang selalu tersenyum kini berubah membawa pisau yang menusuk, bahkan dari depan. Jangan memaksakan diri be...