Pagi ini, untuk kesekian kalinya, kumandang takbir menggema ke seluruh penjuru bumi, melangit, memantul pada dedaunan, lalu jatuh perlahan ke dada-dada yang sedang belajar ikhlas. Kutatap pepohonan yang bergoyang pelan seolah turut larut dalam zikir panjang. Angin berembus syahdu, membawa aroma tanah, embun, dan kenangan tentang pengorbanan.
Para santri berjalan dengan pakaian terbaik mereka: jubah putih yang bersih, sorban yang tersampir di bahu sebagai tanda tunduk seorang hamba di hadapan Tuhannya. Wajah-wajah mereka teduh, langkah mereka tenang. Aku pun membaur, melangkah bersama menuju masjid untuk menunaikan salat Id, sembari membiarkan takbir demi takbir membersihkan riuh di dalam kepala.
Namun, sebelum telapak kakiku menyentuh lantai masjid, angin berbisik lirih di telingaku, bisik yang lebih tajam dari dingin pagi, lebih dingin dari nafas subuh:
“Sudahkah kau mengorbankan egomu hari ini? Ataukah selama ini kau malah memberinya singgasana paling tinggi di dalam hatimu?”
Aku terdiam.
Seketika takbir yang menggema terasa bukan lagi sekadar suara, melainkan panggilan untuk menyembelih sesuatu yang selama ini hidup diam-diam dalam diri: kesombongan yang selalu dipelihara, amarah yang enggan ditundukkan, dan rasa ingin selalu dimenangkan.
Barangkali, Iduladha memang bukan hanya tentang darah yang mengalir dari leher hewan kurban. Sebab ada ego yang jauh lebih liar daripada kambing, lebih sulit dijinakkan daripada sapi, dan lebih rakus daripada nafsu yang terus meminta dipenuhi.
Dan pagi ini aku sadar, bisa jadi yang paling pantas disembelih terlebih dahulu bukanlah hewan di pelataran masjid, melainkan “aku” yang terlalu lama hidup di dalam dada.
Komentar
Posting Komentar