Langsung ke konten utama

Menyembelih ego


الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله

الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرةً وأصيلًا.

لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده.

لا إله إلا الله، ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون.

Malam ini Iduladha datang dengan gema takbir yang terasa berbeda. Ada sesuatu dalam gema itu yang tidak hanya menggema di langit-langit masjid, tetapi juga menggema di bagian paling sunyi dada manusia. Orang menyebutnya malam ini, dengan malam kemenangan, malam pengorbanan, malam penuh keberkahan. Namun sebenarnya malam ini juga seperti cermin yang memaksa kita melihat diri sendiri jauh lebih dalam.

Kita sering mengira kurban hanya tentang kambing, sapi, atau darah yang mengalir. Padahal sejak dalu, Iduladha selalu berbicara tentang sesuatu yang lebih sulit dari sekadar menyembelih hewan: menyembelih ego. Tentang bagaimana manusia belajar merelakan keinginan, menundukkan kesombongan, dan melepaskan hal-hal yang selama ini terlalu dipertahankan.

Sebab tidak semua ego hadir dalam bentuk amarah. Kadang ia tumbuh menjadi rasa paling benar sendiri, gengsi untuk mengakui kesalahan, iri terhadap kebahagiaan orang, atau keinginan untuk terus dipuji. Anehnya, semakin kita dewasa, semakin pandai pula ego kita bersembunyi di balik kata-kata baik dan wajah yang tampak tenang.

Malam ini, takbir kembali berkumandang. Barangkali Tuhan tidak hanya sedang meminta kita menyembelih hewan kurban, tetapi juga segala sifat yang menjauhkan kita dari ketulusan. Karena bisa jadi, yang paling perlu dikurbankan bukan apa yang kita miliki, melainkan bagian dari diri kita sendiri yang terlalu ingin dimenangkan.

Maka sebelum matahari Iduladha terbit esok pagi, semoga kita sempat berdamai dengan diri sendiri. Belajar ikhlas tanpa banyak mengeluh, memberi tanpa merasa paling berjasa, dan mencintai tanpa harus selalu memiliki. Sebab pada akhirnya, makna kurban yang paling dalam adalah ketika manusia mampu mengalahkan egonya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

Kamu terlalu penting untuk tunduk

Manusia memanglah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk bertahan. Namun jangan sekali-kali untuk menitipkan dirimu pada mulut mereka. Jangan kau amini setiap kata, jangan kau iyakan setiap ajakan, jangan selalu siaga pada setiap panggilan tolong. Sebab bila kau terus menyuguhkan dirimu tanpa batas, otak mereka akan menaruhmu di rak yang rendah: sekadar npc yang diprogram untuk menuruti, bukan pribadi yang layak dihargai. Kebaikanmu pun akan dianggap bukan lagi anugerah, melainkan kewajiban yang harus kau lakukan. Maka, belajarlah berkata “tidak” sebagaimana kau belajar berkata “ya”. Sesekali menolak adalah tanda bahwa kau masih memiliki kehendak. Jadilah dirimu sendiri, bukan bayangan yang mereka bentuk. Sebab ketika kau hadir sebagai npc, wajah yang kau lihat hanyalah topeng manis yang dipakai ketika “aku butuh kamu”. Dan ketika kebutuhan itu usai, jangan heran bila wajah yang selalu tersenyum kini berubah membawa pisau yang menusuk, bahkan dari depan. Jangan memaksakan diri be...