الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله
الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرةً وأصيلًا.
لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب
وحده.
لا إله إلا الله، ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون.
Malam ini
Iduladha datang dengan gema takbir yang terasa berbeda. Ada sesuatu dalam gema
itu yang tidak hanya menggema di langit-langit masjid, tetapi juga menggema di
bagian paling sunyi dada manusia. Orang menyebutnya malam ini, dengan malam
kemenangan, malam pengorbanan, malam penuh keberkahan. Namun sebenarnya malam
ini juga seperti cermin yang memaksa kita melihat diri sendiri jauh lebih
dalam.
Kita sering
mengira kurban hanya tentang kambing, sapi, atau darah yang mengalir. Padahal
sejak dalu, Iduladha selalu berbicara tentang sesuatu yang lebih sulit dari
sekadar menyembelih hewan: menyembelih ego. Tentang bagaimana manusia belajar
merelakan keinginan, menundukkan kesombongan, dan melepaskan hal-hal yang
selama ini terlalu dipertahankan.
Sebab tidak
semua ego hadir dalam bentuk amarah. Kadang ia tumbuh menjadi rasa paling benar
sendiri, gengsi untuk mengakui kesalahan, iri terhadap kebahagiaan orang, atau
keinginan untuk terus dipuji. Anehnya, semakin kita dewasa, semakin pandai pula
ego kita bersembunyi di balik kata-kata baik dan wajah yang tampak tenang.
Malam ini,
takbir kembali berkumandang. Barangkali Tuhan tidak hanya sedang meminta kita
menyembelih hewan kurban, tetapi juga segala sifat yang menjauhkan kita dari
ketulusan. Karena bisa jadi, yang paling perlu dikurbankan bukan apa yang kita
miliki, melainkan bagian dari diri kita sendiri yang terlalu ingin dimenangkan.
Maka sebelum
matahari Iduladha terbit esok pagi, semoga kita sempat berdamai dengan diri
sendiri. Belajar ikhlas tanpa banyak mengeluh, memberi tanpa merasa paling
berjasa, dan mencintai tanpa harus selalu memiliki. Sebab pada akhirnya, makna
kurban yang paling dalam adalah ketika manusia mampu mengalahkan egonya
sendiri.
Komentar
Posting Komentar