Langsung ke konten utama

KH Yazid Karimullah

 

KH Yazid Karimullah merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain yang dikenal sebagai sosok sederhana, disiplin, dan penuh keteladanan. Beliau tidak hanya dikenal dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian besar terhadap kebersihan lingkungan pesantren. Di tengah kondisi masyarakat yang sering menganggap kebersihan sebagai hal sepele, KH Yazid justru menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari pendidikan akhlak, pembentukan karakter, serta bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Lingkungan pesantren yang bersih, rapi, dan tertata menjadi salah satu ciri khas yang membuat banyak orang kagum ketika berkunjung ke sana. Selain itu, beliau juga dikenal memiliki kemampuan arsitektur yang luar biasa. Meskipun tidak menempuh pendidikan formal sebagai arsitek, beliau mampu merancang bangunan-bangunan pesantren dengan tata letak yang nyaman, indah dipandang, dan memiliki nilai estetika tersendiri.

Dalam perjuangannya membangun dan mengembangkan pesantren, KH Yazid memberikan teladan yang sangat nyata melalui tindakan sederhana namun penuh makna. Salah satu hal yang paling dikenal dari beliau adalah kebiasaannya memungut sampah sendiri ketika melihat lingkungan yang kotor, beliau tidak segan memungut sampah ketika melihat lingkungan kotor, meskipun beliau merupakan pengasuh pesantren besar. Sikap tersebut membuat para santri merasa malu apabila membiarkan sampah berserakan di sekitar mereka. Tindakan kecil itulah yang menjadi akar tumbuhnya budaya disiplin dan kepedulian terhadap kebersihan di lingkungan pesantren. Ketika para santri melihat langsung gurunya memungut sampah, mereka belajar bahwa keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat dan perintah. Dan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama hingga kiai sekalipun.

Dari sosok KH Yazid Karimullah, kita dapat meneladani sikap rendah hati, cinta kebersihan, dan semangat memberi contoh melalui tindakan, bukan hanya omongan doang. Di zaman sekarang, ketika banyak orang hanya pandai berbicara tanpa memberi teladan, sosok seperti beliau menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Beliau mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak lahir dari jabatan atau perkataannya, melainkan dari akhlak dan perbuatannya sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, kita perlu belajar untuk lebih peduli terhadap lingkungan, membiasakan diri menjaga kebersihan, dan memberi manfaat melalui tindakan nyata, bukan hanya ucapan semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

Kamu terlalu penting untuk tunduk

Manusia memanglah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk bertahan. Namun jangan sekali-kali untuk menitipkan dirimu pada mulut mereka. Jangan kau amini setiap kata, jangan kau iyakan setiap ajakan, jangan selalu siaga pada setiap panggilan tolong. Sebab bila kau terus menyuguhkan dirimu tanpa batas, otak mereka akan menaruhmu di rak yang rendah: sekadar npc yang diprogram untuk menuruti, bukan pribadi yang layak dihargai. Kebaikanmu pun akan dianggap bukan lagi anugerah, melainkan kewajiban yang harus kau lakukan. Maka, belajarlah berkata “tidak” sebagaimana kau belajar berkata “ya”. Sesekali menolak adalah tanda bahwa kau masih memiliki kehendak. Jadilah dirimu sendiri, bukan bayangan yang mereka bentuk. Sebab ketika kau hadir sebagai npc, wajah yang kau lihat hanyalah topeng manis yang dipakai ketika “aku butuh kamu”. Dan ketika kebutuhan itu usai, jangan heran bila wajah yang selalu tersenyum kini berubah membawa pisau yang menusuk, bahkan dari depan. Jangan memaksakan diri be...