Langsung ke konten utama

Ahad 17 agustus 2025

 Matahari tersenyum lebar melihat kesyahduan para santri yang berbaris rapi menyayikan lagu indonesia raya, namun batinnya berbisik “inikah merdeka?, apakah merdeka hanya tentang upacara dan bendera” bisikan itu menggema ke seluruh penjuru nusantra membuat waktu berhenti bergerak.

KH Yazid Karimullah melangkah menjuju mimbar, hendak memberi amanat kepada seluruh hadirin. seakan mendengar bisikan matahari. Beliau berkata “80 tahun negri ini merdeka, angka yang cukup dewasa” kami hanya terdiam membuka telinga selebar lebarnya berusaha mencena ucapan beliau, “apakah kalian merasakita sudah berada di kemerdeakaan haqiqi, merdeka yang benar-benar merdeka, kelaparan dimana-mana, politik tak menentu, penindasan rakyat asing kepad pribumi, merdeka bukan hanya tentang bendera yang berkibar tinggi atau upacara yang berjalan rapi, melaikan tentang sejahtera yang menyekuruh, tentang terealisasinya teks pancasila yang dibacakan tadi. Jadi saya menitipkan kepada kalian semua disini, terutama bagi para guru agar mampu membimbing, merajut dan membentuk para santrinya supaya bisa menjadi pemuda yang tak hanya mampu membacakan dan menghafal teks pancasila tapi juga merealisasikannya kepada seluruh nusantara.

‌شباب ‌اليوم ‌رجال ‌الغد

" pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan"

 ‌حَيَاةُ ‌الفَتَى ‌والله بالعلِمِ والتّقُىَ … إذَا لَمْ يَكُونَا لا اعتبارَ لِذَاتِهِ

Demi Allah, kehidupan manusia ditentukan oleh ilmu dan ketakwaan. Apabila keduanya sudah tidak ada, maka tidak ada lagi harga diri pada dirinya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

lepaskan topeng mu

 Seiring waktu, topengmu kian menumpuk. Ia bukan lagi sekadar hiasan, melainkan gunung yang menjulang, menelan wajahmu yang asli.  Senyum yang kau pinjam, cinta yang kau tiru, antusiasme yang kau curi dan sedih yang kau reka, semuanya berbaris rapi bagai sawit yang terpaksa merampas hutan. Hingga kau lupa bagaimana sebenarnya engkau tersenyum, bagaimana engkau menangis, bagaimana engkau kecewa dan bagai mana engkau tertawa. Kau berjalan dengan wajah orang lain, meniru gerak bibir mereka, menyalin tawa mereka, hanya agar kau dianggap sama, normal dan ada. Tapi dengarkan ini, berbeda bukan berarti gila. Kau cukup menjadi dirimu sendiri. Tertawa dengan caramu, tersenyum dengan gayamu, memutuskan dengan keberanianmu. Jangan takut. Jangan takut menjadi berbeda, selama perbedaan itu tak melukai dirimu dan orang lain. Ingatkan abamu dulu pernah berkata “Kopi tak pernah ingin menjadi gula, hanya agar disukai semua lidah. Ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri. Pahit dalam versi terb...