Langsung ke konten utama

Matahari kecewa

 Pagi itu, angin berbisik di telingaku, seolah membawa rahasia yang tak kumengerti.

“Kau tahu mengapa sepagi ini langit sudah menangis?” tanyanya lirih.

Aku hanya menggeleng, kebingungan.

“Entah,” jawabku singkat.

Angin semakin mendesir, mendesakku untuk mencari jawaban. “Coba tanyakan pada pipit yang beterbangan.”

Aku melangkah, mendekati kawanan pipit. Namun burung kecil itu justru mengarahkan aku pada pohon alpukat di depan asrama.

“Apakah kau tahu mengapa langit menangis pagi ini?” tanyaku penuh harap.

Pohon itu diam, hanya mengangkat rantingnya ke arah langit. Aku mendongak. Kabut turun perlahan, mendung menebal, dan di balik kelabu itu tampak secercah cahaya redup. Matahari.

Aku terperanjat. “Matahari… mengapa kau begitu murung?” tanyaku cemas.

Dengan suara malas, ia menjawab, “Aku kecewa padamu.”

Hatiku bergetar. “Mengapa? Apakah aku menyakitimu?”

Matahari menarik napas panjang, lalu menatapku tajam. “Kau tahu, tugasku adalah menyinari semua sudut, menolong semua orang. Namun tetap ada belahan bumi yang tak mampu kujangkau. Dan kau, yang sekecil itu, memaksakan diri untuk membuat semua orang tersenyum. Padahal dirimu perlahan terkikis.”

Aku terdiam, merasakan sengatan kata-katanya.

“Sadarlah,” lanjutnya. “Kau tak mampu melakukan segalanya. Jangan tertipu oleh tawa yang hanya hadir saat mereka butuhmu, lalu menghilang sesudahnya. Hargai dirimu, waktumu, energimu. Menjauhlah dari mereka yang tak pernah menghargaimu. Merangkul memang mulia, tapi apakah tetap baik jika yang kau rangkul memegang pisau yang siap ditancapkan ke ulu hatimu?”

Saat itu, aku melihat air mata matahari jatuh, membasahi bumi yang turut beriba. Dan aku pun mengerti. Kadang, merawat diri sendiri adalah cahaya paling penting yang bisa kita pancarkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA

    FILOSOFI KOPI, SEJARAH, BUDAYA, PROSES, DAN CITA RASA Farhan bashori hasan ABSTRAK Saat ini Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia dan diminati oleh seluruh kalangan dan golongan. Namun dari sekian banyak orang yang mengkonsumsi kopi, hanya segelintir orang yang mampu memahami dan menyingkap Hikmah-himah yang terkandung dalam secangkir kopi yang ia minum. Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dalam penelitian ini saya berusaha untuk menemukan sebuah makna sehingga mendapatkan sebuah pemahaman dan menemukan arti dari suatu fenomena dan kejadian yang ada. Teknik yang digunakan adalah literature review , yang mana dalam penelitian ini data yang digunakan studi kepustakaan. Dan dalam artikel ini saya akan mengulas sedetail-detailnya namun juga sesingkat-singkatnya, mulai dari sejarah di temukannya kopi, budaya minum kopi, proses penannaman hingga penyeduhan kopi dan cita rasa kopi, beserta hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya. Juga a...

SEBUAH RASA DI BALIK TEMBOK YANG TAK KASAT MATA

  SEBUAH RASA DI BALIK TEMBOK YANG TAK KASAT MATA Di sebuah pesantren yang terletak jauh dari keramaian kota, di tengah hamparan sawah yang hijau dan sunyi, hidup seorang santri muda bernama Zidan Fadlan Rabbah. Pesantren itu adalah tempat yang penuh dengan kedamaian, di mana se tiap sudutnya dihiasi dengan suara lantunan doa dan pembelajaran agama yang tiada henti nya . Di sana, aturan-aturan ketat diberlakukan, dan kehidupan santri dilandasi oleh ajaran yang luhur dan disiplin yang tinggi. Namun, di balik kesunyian dan ketatnya aturan, ada sebuah kisah yang tersembunyi, sebuah kisah tentang cinta yang terhalang oleh sekat-sekat yang tak kasat mata . Zidan adalah santri yang tekun belajar. Dari pagi hingga malam, ia hampir tak pernah berhenti menuntut ilmu. Pagi dimulai dengan shalat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan pembelajaran kitab-kitab kuning yang kaya akan hikmah dan filsafa h . Siangnya diisi dengan berbagai diskusi ilmiah , sedangkan malamnya diwarnai dengan dzikir...

Antara Feodalisme dan Mengabdi

Fenomena sosial dalam sejarah manusia sering kali ditandai oleh hubungan hierarkis antara penguasa dan rakyat. Dua istilah yang relevan untuk menggambarkan dinamika ini adalah feodalisme dan mengabdi . Keduanya memiliki akar sejarah yang berbeda dan pengertian yang berbeda, namun sering kali kita salah memahami ma`na dan hakikat sebenarnya. Terlebih belakangan ini pembahasan tentang Pesantren feodal yang lagi gencar-gencarnya diperdebatkan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis regulasi antara feodalisme sebagai sistem kekuasaan dan mengabdi sebagai sikap sosial, serta implikasinya dalam konteks modern. A.   Definisi dan konsep Feodalisme : Feodalisme merupakan Sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan; sistem yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, bukan prestasi. Sistem ini berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan, ditandai oleh hubungan lord-vassal , kepemilikan tanah, dan hierarki bangsawan. Sementara dalam kont...