Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Baik bagimu belum tentu banginya

 Tak semua yang kau anggap baik, akan serupa di mata mereka. Sebab kebaikan bukanlah satu warna, melainkan kepingan yang berbeda dari sudut lainnya. Apa yang kau suguhkan dengan tulus, bisa saja dianggap biasa, bahkan mengundang curigai. Dan apa yang kau sebut teman, belum tentu menyebutmu dengan nama yang sama. Terkadang persahabatan hanyalah bayangan yang menari di tebing lembah, ilusi yang menghangatkan sesaat, lalu lenyap ketika cahaya mulai merangkak. Hidup mengajarkan bahwa tidak semua senyum adalah pelukan, tidak semua pelukan adalah kejujuran. Ada yang mendekat karena kebutuhan, ada yang menjauh karena takut terseret dalam luka yang kau bawa. Maka jangan terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, sebab nilai dirimu tidak lahir dari tepuk tangan mereka, melainkan dari keteguhan hati dan jati diri. Semua ilusi itu memang terlihat indah, seperti fatamorgana di padang tandus, memberi harapan bagi yang haus. Namun jika kau terus mengejarnya, kau akan tersungkur tanpa pernah...

Memberi tak selalu baik

 Memberi dan mengayomi, memang terdengar mulia!.  Seakan kau malaikat yang turun membawa kopi dan pelukan pagi. Tapi coba lakukan itu terus-menerus pada orang-orang yang sama, maka kau bukan lagi malaikat. Kau justru sedang mencetak monster yang haus perhatian. Mengapa bisa begitu? Karena manusia punya kebiasaan buruk: apa yang semula dianggap anugerah, lama-lama dianggap hak. Apa yang dulu disyukuri, akhirnya ditagih. Sekali saja kau absen, mereka akan menatapmu seperti pencuri yang merampas milik mereka. Ironis, bukan? Kebaikanmu berubah jadi utang, dan tanganmu yang memberi berubah jadi borgol. Jadi berhati-hatilah. Terlalu baik itu kadang lebih jahat dari pada tidak peduli. Kasih yang berlebihan bisa membuat orang lumpuh, perhatian yang terlalu deras bisa melahirkan tirani kecil bernama “aku berhak.” Pada akhirnya, kau bukan lagi dermawan, melainkan budak dari kebaikanmu sendiri.

17-32

 "17-32", suara itu sering tenggelam di pasar yang riuh oleh iklan cinta. Ayat yang melarang, kini terdengar seperti gema di ruang hampa, sementara manusia sibuk merayakan pelukan di kafe, menyiarkan ciuman di layar kaca, dan menjual gairah sebagai komoditas. Ironis bukan!. Larangan itu berdiri kokoh, tapi di jalanan kota billboard menari dengan tubuh setengah telanjang, iklan parfum menjanjikan keintiman, dan drama televisi menjadikan perselingkuhan sebagai hiburan. Ayat itu seakan menjadi bisikan kecil di tengah konser. "Jangan dekati"......... katanya. Tapi masyarakat justru membangun jembatan menuju neraka. Aplikasi kencan yang menjodohkan tanpa ikatan, pesta malam yang merayakan pelampiasan, bahkan bahasa sehari-hari yang mulai meremehkan. Seolah zina tak lagi dosa, melainkan gaya hidup. Kau ulang "17-32" seperti alarm yang tak pernah berhenti, tapi banyak telinga memilih tuli. Mereka menganggap larangan itu kuno, padahal ia adalah pagar yang melindun...